Teknik Budidaya Kunyit


Kunir ( dalam bahasa jawa ) atau kunyit, dengan nama ilmiah Curcuma longaLinn. syn. Curcuma domestica Val. Kunyit adalah jenis tanaman yang memanfaatkan bagian umbi; itu sebabnya dalam istilah bahasa jawa adalah empon empon. Kunyit adalah salah satu jenis tanaman rempah dan bahan obat asli dari kawasan Asia Tenggara. Distribusi tanaman ini tersebar di kawasan Malaysia, Indonesia, Australia bahkan sampai ke Afrika. Jenis tanaman kunyit ini sangat familiar untuk kawasan kawasan tersebut sehingga siapa yang tidak kenal dengan kunyit yang pemanfaatannya telah begitu tersebar luas baik untuk bumbu masakan, jamu / obat penjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Kunyit juga termasuk dalam kelompok jahe jahean ( Zingiberaceae ).

Beberapa nama lokal dari kunyit seperti Turmeric ( Inggris ), Curcuma ( Belanda ), Kunyit ( Indonesia dan Malaysia ), Kunir ( Jawa ), Koneng ( Sunda ), Konyek ( Madura )

 

Kunyit memiliki batang semu yang tegak dan bulat membentuk rimpang dengan warna hijau dan semakin tua akan berwarna kekuningan. Kunyit tersusun dari pelepah daun dengan tinggi antara 40 - 100 Cm. Daun tunggal memiliki bentun bulat telur ( lanset ) dengan ukuran 10 - 40 cm dengan lebar 8 - 12,5 Cm. Pertulangan daun menyirip dengan warna hijau lebih pucat. Kunyit memiliki bunga majemuk yang menyerupai rambut dan bersisik yang tumbuh dari pucuk batang semu, dengan panjang sekitar 10-15 Cm dengan mahkota sekitar 3 Cm dan lebar 1,5 Cm dengan warna bunga putih / kekuningan. Bagian ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Warna kulit rimpang kunyit berwarna kecoklatan, daging merah jingga kekuning kuningan.

 
Tanaman Kunyit

Syarat Tumbuh
Iklim

Kondisi yang cocok bagi pertumbuhan tanaman kunyit adalah tempat tempat dengan intensitas cahaya yang penuh atau sedang, sehingga tanaman kunyit sangat cocok di budidayakan pada tempat terbuka atau sedikit naungan. Kondisi ini penting untuk proses fotosintesis pada daun, hasil fotosintesis akan disimpan dalam rimpang / umbi. Itu sebabnya jika kunyit ditaman pada daerah yang kurang cahaya ( teduh ) maka pertumbuhan daun akan lebih lebat tetapi sedikit sekali umbinya.

Iklim yang baik untuk budidaya kunyit adalah daerah yang memiliki curah hujan 1.000 - 4.000 mm / tahun. Apabila kunyit ditanam pada daerah dengan curah hujan < dari 1.000 mm / tahun maka diperlukan sistem perairan yang harus tersedia dan ditata dengan baik. Sebaiknya menanamnya pada awal musim penghujan. Budidaya kunyit bisa di budidayakan sepanjang tahun, dengan suhu udara optimum sekitar 19 - 30 o C

Media Tanam
Kunyit sangat baik ditanam pada tanah yang gembur atau tanah berpasir ( banyak mengandung pasir ), sehingga tanah yang dicangkul dengan baik akan menghasilkan umbi yang berlimpah. Kondisi tanah yang gembur atau tanah berpasir memudahkan umbi untuk berkembang.

Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik yang tinggi - tanah lempung berpasir yang terbebas dari genangan air atau sedikit basa.

Ketinggian Tempat
Tumbuhan kunyit bisa tumbuh baik pada dataran rendah ( < 240 m dari perlukaan laut ) sampai dataran tinggi ( > 2.000 m dari permukaan laut ). Jumlah produksi optimal sekitar 12 ton per ha yang bisa diperoleh jika ditanam pada ketinggian 45 m dari permukaan laut.



Bunga dari tanaman Kunyit

Pembibitan
Syarat Bibit

Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang / umbi karena lebih mudah tumbuh. Untuk memilik bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang subur, segar, sehat, berdaun banyak dan hijau, kokoh, tidak terserang penyakit. Pilih bibit yang telah memiliki umur / berasal dari rimpang yang berumur > 7 - 12 bulan; dengan bentuk dan ukuran serta warna yang seragam dengan kadar air yang cukup. Benih telah mengalami masa istirahat ( dormansi ) cukup; terhindar dari bahan asing seperti biji tanaman lain / kulit / kerikil yang menempel.

Penyiapan Bibit
Pemilihan bibit sangat penting, rimpang yang telah terpilih dipotong untuk mendapatkan ukuran dan berat yang seragam dan untuk memperkirakan banyaknya mata tunas / rimpang. Kemudian bekas potongan ditutup dengan abu dapur/ sekam atau bisa juga dengan merendam potongan kunyit kedalam fungisida seperti benlate atau agrymicin, untuk menghindari pertumbuhan jamur. Setiap potongan rimpang paling banyak memiliki 1 - 3 mata tunas, dengan berat antara 20 - 30 gram dan panjang 3 - 7 Cm.

Teknik Penyemaian Bibit
Untuk merangsang pertumbuhan rimpang kunyit bisa dilakukan dengan cara mengangin anginkan rimpang kunyit ditempat yang teduh atau lembab selama 1 - 1,5 bulan dengan penyiraman 2 kali sehari ( pagi dan sore hari ). Bibit tumbuh baik apabila disimpan dalam suhu kamar ( 25 - 28 o C ). Bisa juga menempatkan rimpang diantara jerami pada suhu kamar dan merendam bibit pada larutan ZPT (zat pengatur tumbuh) selama 3 jam. ZPT yang sering digunakan adalah larutan atonik (1 cc/1,5 liter air) dan larutan G-3 (500-700 ppm). Rimpang yang akan direndam larutan ZPT harus dikeringkan dahulu selama 42 jam pada suhu udara 35°C. Jumlah anakan atau berat rimpang dapat ditingkatkan dengan jalan direndam pada larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.

Pemindahan Bibit
Bibit yang telah siap lalu ditempatkan pada persemaian, dimana rimpang akan muncul tunas setelah ditanam di persemaian selama 1 - 1,5 bulan. Setelah tunas tumbuh 2-3 cm maka rimpang sudah dapat ditanam di lahan. Pemindahan bibit yang telah bertunas harus dilakukan secara hati-hati guna menghindari agar tunas yang telah tumbuh tidak rusak. Bila ada tunas/akar bibit yang saling terkait maka akar tersebut dipisahkan dengan hati-hati lalu letakkan bibit dalam wadah tertentu untuk memudahkan pengangkutan bibit ke lokasi lahan. Jika jarak antara tempat pembibitan dengan lahan jauh maka bibit perlu dilindungi agar tetap lembab dan segar ketika tiba di lokasi. Selama pengangkutan, bibit yang telah bertunas jangan ditumpuk agar tunas tetap utuh dan tidak patah / rusak karena penumpukan.

Pengolahan Media Tanam
Persiapan Lahan

Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam.

Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara manual atau menggunakan alat mekanik guna menggemburkan lapisan top soil dan sub soil juga sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah dicangkul pada kedalaman 20-30 cm kemudian diistirahatkan selama 1-2 minggu agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap dan bibit penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari.

Pembentukan Bedengan
Lahan kemudian dibedeng dengan lebar 60 - 100 cm dan tinggi 25-45 cm dengan jarak antar bedengan 30 - 50 cm.

Pemupukan (sebelum tanam)
Untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, drainase, dan aerasi yang lancar, dilakukan dengan menaburkan pupuk dasar (pupuk kandang) ke dalam lahan/dalam lubang tanam dan dibiarkan 1 minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk kandang 2,5-3 kg.

Teknik Penanaman
Kebutuhan bibit kunyit / hektar lahan adalah 0,50-0,65 ton. Maka diharapkan akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton / ha.

Penentuan Pola Tanaman Bibit kunyit yang telah disiapkan kemudian ditanam ke dalam lubang berukuran 5 - 10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas. Tanaman kunyit ditanam dengan dua pola, yaitu penanaman di awal musim hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau ( 7 - 8 bulan) atau penanaman di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan dua kali musim kemarau ( 12 - 18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan. Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.

Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat di atas bedengan / petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.

x      x             x      x

x      x             x      x

x      x             x      x

x      x             x      x

x      x             x      x

x      x             x      x

x      x             x      x

 

Cara Penanaman
Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatik sebanyak 1 ml/liter pada media yang diberi mulsa ternyata berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan vegetatif kunyit, sedangkan penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (indolebutyric acid) sebanyak 200 mg/liter pada media yang sama berpengaruh nyata terhadap pembentukan rimpang kunyit.

Perioda Tanam
Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan sama seperti tanaman rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun rimpang tanaman ini nantinya dipanen muda yaitu 7-8 bulan tetapi pertanaman selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan.

Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman

Apabila ada rimpang kunyit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) rimpang lain yang masih segar dan sehat.

Penyiangan
Penyiangan dan pembubunan perlu dilakukan untuk menghilangkan rumput liar (gulma) yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan mengganggu perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan 3-5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur ½ bulan dan bersamaan dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar tumbuh besar dan tanah tetap gembur.

Pembubunan
Seperti halnya tanaman rimpang lainnya, pada kunyit pekerjaan pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk memberikan kondisi media sekitar perakaran lebih baik sehingga rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembubunan biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan biasanya dilakukan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali.

Pemupukan
a. Pemupukan Organik

Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun, dan luas area daun kunyit secara nyata. Kombinasi pupuk kandang sebanyak 45 ton/ha dengan populasi kunyit 160.000/ha menghasilkan produksi sebanyak 29,93 ton/ha.

b. Pemupukan Konvensional
Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman kunyit perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Dengan pemberian pupuk ini diperoleh peningkatan hasil sebanyak 38% atau 7,5 ton rimpang segar / ha. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg / ha), P2O5 (50 kg / ha), dan K2O (75 kg / ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

Pengairan dan Penyiraman
Tanaman kunyit termasuk tanaman tidak tahan air. Oleh sebab itu drainase dan pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat mungkin, agar tanaman terbebas dari genangan air sehingga rimpang tidak membusuk. Perbaikan drainase baik untuk melancarkan dan mengatur aliran air serta sebagai penyimpan air di saat musim kemarau.

Waktu Penyemprotan Pestisida Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama penyakit.

Pemulsaan sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.

Hama dan Penyakit
Hama

Ulat penggerek akar (Dichcrosis puntifera.)
Gejala: pada pangkal akar dimana tunas daun menjadi layu dan lama kelamaan tunas menjadi kering lalu membusuk.
Pengendalian: tanaman disemprot / ditaburkan insektisida furadan G-3.

Penyakit
1) Busuk bakteri rimpang
Penyebab: oleh kurang baik sistem pengairan (drainase) atau disebabkan oleh rimpang yang terluka akibat alat-alat pertanian, sehingga luka rimpang kemasukan cendawan.
Gejala: kulit akar tanaman menjadi keriput dan mengelupas, kemudian rimpang lama kelamaan membusuk dan keropos.
Pengendalian: mencegah terjadi genangan air pada lahan, mencegah terluka-nya rimpang; penyemprotan fungisida dithane M-45.

2) Karat daun kunyit
Penyebab: Taphrina macullans Bult dan Colletothrium capisici atau oleh kutu daun yang disebut Panchaetothrips.
Gejala: timbulnya warna coklat (karat) pada helaian daun; bila penyakit ini menyerang tanaman dewasa/daun yang tua maka tidak akan mempengaruhi produksinya sebaliknya jika menyerang tanaman/daun muda, menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
Pengendalian: Dilakukan dengan mengurangi kelembaban; Penyemprotan insektisida, seperti dengan agrotion 2 cc / liter atau dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali.

Gulma
Gulma potensial pada pertanaman kunyit ini adalah gulma kebun yang umum yaitu alang-alang, rumput teki, rumput , ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.

Pengendalian hama / penyakit secara organik
Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT ( Pengendalian Hama Terpadu ) yang komponennya adalah sbb:

Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman

  1. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami
  2. Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  3. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  4. Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.
  5. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

  1. Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.
  2. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
  3. Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.
  4. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
  5. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
  6. Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

 

Rimpang / umbi kunyit

Panen
Ciri dan Umur Panen

Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8-18 bulan, saat panen yang terbaik adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih banyak bila dibandingkan dengan masa panen pada umur kunyit 7-8 bulan. Ciri-ciri tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi kelayuan / perubahan warna daun dan batang yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).

Cara Panen
Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar rimpang dengan cangkul/garpu. Sebelum dibongkar, batang dan daun dibuang terlebih dahulu. Selanjutnya rimpang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.

Periode Panen
Panen kunyit dilakukan di musim kemarau karena pada saat itu sari/zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air dalam rimpang sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringan.

Perkiraan Hasil Panen
Berat basah rimpang bersih / rumpun yang diperoleh dari hasil panen mencapai 0,71 kg. Produksi rimpang / umbi segar / ha biasanya antara 20-30 ton.

 

Informasi terkait dengan budidaya kunyit bisa dicari dengan kata kunci sebagai berikut : budidaya kunyit, cara penanaman, tanaman obatan, usaha budi daya, penanaman jahe, cara tanam jahe, curcuma longa, tana man, budi daya kunyit, teknik budidaya jahe, budi daya tanaman obat, budi daya tanaman jahe, cara budidaya kunyit, cara budi daya jahe, jenis tanaman budidaya, teknis budidaya tanaman, obat tradisional kunyit, budidaya tanaman kunyit, tanaman kunir, peluang bisnis pertanian, jenis tanaman untuk obat, budidaya kunyit putih, pertanian jahe, peluang usaha jahe, curcuma longa linn, cur cuma, sejarah tanaman jahe, manfaat tanaman kunir, tnaman obat, budidaya kunyit pdf, cara berkebun jahe, budidaya kunyit kuning, fungsi obat tanakan, kurkuma longa, curcumae longae, c urcuma, curcurma longa, curcoma longa, curuma longa, curc uma, cucuma longa, cucurma longa, turmeric, kunyit untuk kulit, jenis tanaman herbal, kunir kunyit, curcum, kunyit asam sirih, tanaman kunir, obat herbal kunyit, gambar tumbuhan kunyit, curcumin turmeric, tumbuhan jahe dan manfaatnya, kunyit asem sirih, curcuma longa extract, khasiat kunyit asam sirih, manfaat tanaman kunir, kunyit dan asam jawa, fungsi kunyit bagi kesehatan, khasiat kunyit pada kulit, turmeric side effects, kurkuma tabletten,

"Fusarium Oxysporum", Pengurai Minyak Tahan Salinitas


 

Minyak yang tumpah di perairan biasanya sulit untuk diuraikan sehingga merupakan penyebab matinya mahluk hidup di perairan tersebut. Hal tersebut menjadi masalah pencemaran lingkungan. Anggapan tersebut saat ini telah sedikit di sanggah sejak ditemukan spesies jamur Fusarium oxysporum yang dapat menguraikan cemaran minyak.Fusarium oxysporum juga memiliki kemampuan bertahan dalam keadaan kadar garam tinggi, sehingga tetap efektif menguraikan tumpahan minyak di laut.

Secara umum terjadinya tumpahan minyak terjadi karena proses alam dan karena aktivitas manusia. 60 persen tumpahan minyak terjadi secara proses alam dan selebihnya karena ulah manusia. Akitab ulah manusia karena proses pengeboran minyak dan transportasi atau bisa karena tahap produksi walaupun sangat jarang terjadi.

Saat ini untuk memulihkan kembali lingkungan dari dampak pencemaran minyak telah tersedia beberapa pilihan baik dilakukan secara teknik yang dilakukan dengan bahan kimia atau kimiawi, fisik maupun secara bioremediasi. Dan akhir akhir ini yang paling banyak dilakukan dalam proses rehabilitasi lingkungan yang tercemar adalah dengan bioremediasi karena relatif lebih ramah terhadap lingkungan.
 
Penemuan dan penelitian terbaru terkait dengan Fusarium oxysporum ( F oxysporum ) yang ternyata juga bisa merehabilitasi lingkungan yang tercemar minyak. Seperti yang telah dipahami dalam bidang pertanian bahwa jamur Fusarium lebih banyak dikenal sebagai jamur tanah yang menyebabkan penyakit pada tanaman pertanian seperti pada tanaman bawang dan pisang. Sedangkan jamur Fusarium yang memparasit manusia bersifat patogen sebagai penyebab infeksi jamur pada kornea ( Fungal keratitis ), kuku ( onychomucosis ) dan pada kulit ( hyalohyphomycosis ).

Hasil penelitian terhadap mikroorganisme tanah tersebut ( Fusarium oxysporum ) yang diisolasi dari hutan tropis Indonesia tenyata bisa menguraikan minyak mentah. Penguraian bisa dilakukan baik pada media tanah baik tanah basa maupun tanah asam bahkan dapat menguraikan minyak mentah pada kondisi berkadar garam tinggi.

Temuan Asep Hidayat ( tenaga Ahli dari Badan Penelitian dan Pengembangan kementrian Kehutanan ) yang menjadi bahan tesis doktor di Universitas Ehime, Jepang, "Biodegradation of Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), Polychlorinated Aromatic Compounds (PACs), Polylactic Acid (PLA)/Kenaf, Composite, and Crude Oil by Fungi Screened from Nature", telah dipatenkan pada tahun 2011. Temuan Asep dipublikasikan pada tahun 2012 di sejumlah jurnal internasional, seperti Journal of Environmental Science and Technology dan Fungal Biology. Proses pencarian jasad renik dilakukan asep sejak 2007.

Penelitian Skala laboratorium
Hasil penelitian membuktikan bahwa Fusarium oxysporum teruji dapat menguraikan minyak mentah dan beberapa turunannya seperti chrysenedan n-octadecane. Asep meneliti 62 sumber tanah di Jepang dan di Indonesia dan memperoleh 92 jamur yang mengarah kepada Fusarium oxysporum dalam proses penyaringan tanah di laboratorium.

Isolat Fusarium oxysporum di uji coba pada minyak mentah yang terbukti mampu menguraikan minyak mentah tersebut. Yang unik dari Fusarium oxysporum adalah walaupun di isolasi dari hutan tropis tetap tahan pada kadar garam tinggi ( air laut )."Air laut mengandung garam yang menyulitkan hidup mikroorganisme. Namun, jamur Fusarium bisa hidup dan efektif mengurai crude oil (minyak mentah)," Tidak hanya itu saja Fusarium oxysporum juga tahan terhadap kondisi basa mapun keadaan asam dengan PH 4 - 8.
Jamur Fusarium oxysporum juga mampu menguraikan turunan dari minyak mentah yaitu chrysene yang susah di uraikan. Hasil penguraian Fusarium oxysporum pada chrysene menghasilkan karbon dioksida dan air yang aman bagi mahluk hidup.

Penerapan di Lapangan
Saat ini Fusarium oxysporum dicobakan di lapangan, tetapi penerapan di lapangan tidak semudah dibayangkan karena banyak faktor yang mempengaruhi seperti suhu, cuaca, arus dan sinar matahari.

Salah satu obsesi Pusat Penelitian Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) Kementerian Kehutanan adalah menemukan bioremediasi untuk pewarna tekstil yang mencemari sungai di kawasan industri tekstil. Kepala Puskonser Adi Susmianto berharap temuan serupa bisa diaplikasikan pada proses industri pulp dan kertas. Industri itu banyak menggunakan pemutih berbahan kimia dalam proses membersihkan warna kertas. "Temuan Asep semakin menginspirasi Puskonser untuk melakukan upaya koleksi mikroba untuk berbagai kepentingan, baik bioremediasi, biohealth, bioenergi, bioplastik, maupun bioreklamasi," kata Adi.

Pemanfaatan microba sebagai agen bioremediasi diharapkan bisa meningkatkan kualitas hutan dan lingkungan. Sedang dikembangkan pemanfaatan Fusaiurm oxysporum pada pengolahan asam tambang, reklamasi pascatambang, hingga mengatasi pencemaran logam berat akibat penggunaan air raksa dalam penambangan emas.

Pemanfaatan sumber daya mikroba memberikan kesempatan dan menjanjikan bagi masa depan Indonesia dan dunia. Menurut Protokol Nagoya yang diratifikasi Indonesia pada 11 April 2013 membuka harapan pembagian keuntungan bagi pemilik "plasma nutfah" berupa mikroba hutan tropis dapat digunakan oleh negara lain dan bermanfaat bagi kehidupan penghuni Bumi.

 

Sumber :

Kompas Cetak
www.htysite.com

CARA BUDIDAYA TANAMAN LIDAH BUAYA


Tanaman Lidah Buaya adalah tanaman yang memiliki banyak manfaat; bagi kesehatan manusia. Dilihat dari prospek pasar, ternyata permintaan akan lidah buaya sangat banyak, namun tingkap produksi tanaman lidah buaya masih sangat kurang di Indonesia. Sehingga dengan prospek pasar yang luar dan peluang yang besar maka sangat disayangkan jika tidak dikembangkan, untuk itu budidaya lidah buaya harus ditingkatkan. Melihat kondisi lingkungan di wilayah Indonesia sangat sesuai dan cocok untuk budidaya lidah buaya.

Berikut ini adalah cara dan teknik budidaya lidah buaya :

Penyiapan Lahan
Lakukan persiapan pada lahan dengan membajaknya dan digemburkan lebih dahulu. Jangan lupa membuat drainase dan bendungan jika perlu sehingga memudahkan anda dalam mendapatkan air, atau membuang kelebihan air saat musim penghujan. Pembuatan bedengan dengan ukuran 1 x 2 meter dan tinggi 30 - 40 cm sedangkan panjang supaya disesuaikan dengan panjang / lebar lahan.

Pembibitan Lidah Buaya
Pembibitan dilakukan secara vegetatif, yaitu dengan cara mencari anakan pada tanaman induk. Caranya dengan dicongkel tetapi pada bagian akar diupayakan agar tidak putus. Anakan yang diperoleh di tanam pada polybag. Waktu atau lama pembibitan sekitar 3 - 5 bulan.

Penanaman Lidah Buaya di Lahan
Setelah mencapai usia 3-5 bulan dari penanaman di polybag. Bibit yang sudah disiapkan ditanam pada lubang dengan kedalaman lebih dari 10 Cm. Yang harus diperhatikan pada saat penanaman adalah usahakan bibit tidak terhimpit dan daun tidak patah.

Perawatan dan Pemeliharaan lidah buaya
Pemeliharaan tanaman lidah buaya adalah dengan melakukan penyiangan, penyiraman dan pemberian pupuk. Pupuk kandang yang sudah matang ( sudah jadi tanah ) sebanyak 2 - 5 kg pada 1 - 2 mingu sebelum ditanam dengan menaruhnya pada lubang tanam. Setelah ditanam ( pasca tanam ) anda tinggal memberi pupuk seperti urea. Dan untuk mencegah hama anda bisa menggunakan furadan dengan cara di taburkan pada sekitar tanaman.

Pemanenan Lidah Buaya.
Lidah buaya siap dipanen pada umur sekitar 12 - 18 bulan setelah ditanam. Panen bisa dilakukan setiap bulan. Saat panen lidah buaya sebaiknya pelepah lidah buaya segera dibawa ke tempat penyortiran, kemudian dibungkus dan di proses lebih lanjut.

 

SUMBER :

http :// www.htysite.com

Manfaatkan Pekarangan, Perbaiki Gizi Keluarga


 

Gemar menanam adalah anjuran dari pemerintah, jika anda terbatas karena lahan yang sempit maka tidak ada salahnya jika anda mencoba metode homestead food production (HFP), yaitu dengan memanfaatkan sisa lahan untuk menaman sayuran untuk memperbaiki gizi keluarga. HFP adalah program yang dikembangkan untuk memberdayakan lahan yang sempit untuk memproduksi / menanam sayuran dan buah kaya zat gizi mikro yaitu kaya vitamin dan mineral. Tidak hanya bertanam tetapi program HFP juga dikembangkan juga untuk berternak ayam dan ikan dan ternak kecil lainnya dengan memanfaatkan keterbatasan lahan.

Program ini sangat cocok diterapkan di daerah daerah yang rawan dan krisis Pangan, Program HFP ini sudah diterapkan di Bangladesh dan telah sukses pada 20 tahun yang lalu, selain bangladesh program HFP juga diterapkan di Kambodia, Nepal, Filipina dan Vietnam pada beberapa tahun terakhir ini.

Mardewi, Manager Program Nutrisi dari LSM Helen Keller International, salah satu penggagas program HFP di Indonesia mengatakan bahwa program HFP ini adalah pada ibu dan anak, Survei membuktikan bahwa keluarga yang menerapkan HFP ternyata mengkonsumsi sayuran 1,6 lebih banyak dan mereka yang menerapkan HFP juga terbukti memiliki rabun senja yang lebih rendah dibandingkan dengan rumah tangga yang tidak menerapkan HFP. Memanfaatkan sisa pekarangan yang tidak terpakai untuk menaman sayuran dan buah ternyata lebih banyak manfaatnya. Sayuran dan buah adalah sasaran yang ditanam dalam progam HFP karena sayuran dan buah adalah komponen terpenting dalam pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral sebagai menu sehari hari keluarga. Vitamin dan mineral pada sayur dan buah dibutuhkan untuk menjaga kekebalan tubuh, kecerdasan dan perkembangan fisik. Sedangkan pemanfaatan pekarangan untuk berternak adalah sebagai sumber protein hewani, yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel sel tubuh yang rusak dan juga bisa sebagai sumber protein.

Program HFP juga bisa untuk mempermudah keluarga mencapai gizi yang seimbang karena mereka tidak perlu membeli hal ini seperti yang disampaikan oleh Ahli gizi Dr. Ir. Hadi Riyadi, M.S dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Intsitus Pertanian Bogor (IPB). Gizi yang seimbang bisa diperoleh dari makanan yang dimakan setiap hari yang terdiri dari berbagai macam makanan yang mengandung energi dan juga terdapat zat zat gizi, sehingga dengan mengkonsumsi setiap hari maka kebutuhan energi dan gizi keluarga bisa tercukupi.

Tanaman yang sesuai untuk program GFG adalah bayam, kacang panjang, sawi, wortel, kangkung, tomat, terong, dan singkong. Dan ada sedikit tips yaitu untuk buah tomat - terong dan labu kalau bisa diupayakan untuk berbuah pada musim kemarau karena kandungan gizi dan nutrisinya sangat banyak pada musim kemarau.
Sedangkan untuk pemanfaatan pekerangan untuk kegiatan peternakan maka sebaiknya memelihara ayam karena lebih mudah dipelihara di sisi lain ayam juga menghasilkan telur yang merupakan sumber nutrisi yang baik bagi keluarga.

 

 

SUMBER

http://health.kompas.com/read/2013/05/02/0859038/Manfaatkan.Pekarangan..Perbaiki.Gizi.Keluarga

VARIETAS UNGGUL KEDELAI DAN BUDIDAYA KEDELAI TANPA OLAH TANAH

Pelaksanaan penelitian dibidang pertanian, khususnya tanaman pangan telah memberi kontribusi besar dalam pembangunan pertanian. Hal ini tercermin dari laju peningkatan produksi dan pendapatan petani yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. 

Di antara beberapa teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah berupa teknologi benih melalui penciptaan varietas unggul yang memegang peranan paling menonjol disamping teknologi lainnya seperti pemupukan, pengendalian hama/penyakit, penanganan panen dan pasca panen, serta alat dan mesin pertanian. Menggunakan varietas unggul merupakan salah satu upaya yang mudah dan murah untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Mudah karena teknologinya tidak rumit yakni hanya mengganti varietas kedelai dengan yang lebih unggul dan murah karena tidak memerlukan tambahan biaya produksi. Tersedianya varietas unggul yang beragam sangat penting artinya guna menjadi banyak pilihan bagi petani baik untuk pergiliran varietas antar musim, mencegah petani menanam satu varietas terus menerus, mencegah timbulnya serangan hama /penyakit, dan menjadi pilihan petani sesuai kondisi lahan. 

PENGENALAN VARIETAS 

Untuk mempertahankan kemurnian agar seragam dan keunggulannya tetap di miliki, perlu mempelajari sifat-sifat morfologis tanaman seperti tipe tumbuh, warna hipokotil, warna bunga, warna bulu, umur berbunga, dan sifat-sifat 
kuantitatif seperti tinggi tanaman, ukuran biji, dan ukuran daun. 
Pengenalan atau identifikasi varietas unggul adalah suatu teknik untuk menentukan apakah yang dihadapi tersebut adalah benar varietas unggul yang dimaksudkan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan mempergunakan alat 
pegangan berupa deskripsi varietas.

 

POTENSI DAN RATA-RATA HASIL 

Tingkat hasil suatu tanaman ditentukan oleh interaksi faktor genetis varietas unggul dengan lingkungan tumbuhnya seperti kesuburan tanah, ketersediaan air, dan pengelolaan tanaman. Tingkat hasil varietas unggul yang tercantum dalam deskripsi umumnya berupa angka rata-rata dari hasil yang terendah dan tertinggi pada beberapa lokasi dan musim. Potensi hasil varietas unggul dapat saja lebih tinggi atau lebih rendah pada lokasi tertentu dengan penggunaan masukan dan pengelolaan tertentu pula. Biasanya untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi dari penggunaan varietas unggul diperlukan pengelolaan yang lebih intensif dan perhatian serius serta kondisi lahan yang optimal. Agar memperoleh hasil yang optimal di atas rata-rata dalam deskripsi maka perolehan varietas unggul harus sesuai 6 tepat (tepat varietas, jumlah, mutu, waktu, lokasi, dan tepat harga)

 

DISKRIPSI VARETAS UNGGUL KEDELAI

NO
VARIETAS
TAHUN PELUNCURAN
KETERANGAN
1Gema 2011Komoditas: Kacang Kedelai
Tahun: 2011
Ketahanan terhadap hama: Peka terhadap hama pengisap polog, agak tahan hama penggerek polong, moderat terhadap hama ulat grayak
Ketahanan terhadap penyakit: Peka terhadap virus daun CMMV, moderat terhadap penyakit karat
Wilayah adaptasi: Lahan sawah dan lahan kering (tegal)
Status: Komersial

 VARIETAS ARGOMULYOVARIETAS BURANGRANGVARIETAS BROMO
Asal 




Nomor Galur 

Warna hipokotil 

Warna epikotil 

Warna bunga 

Bentuk daun 

Warna daun 

Wrn kulit pol masak

Warna biji 

Warna buIu 

Warna hilum biji 

Tipe tanaman 

Tinggi tanaman 

Umur berbunga 

Umur polong masak

Percabangan 

Kerebahan 

Bobot 100 biji 

Percabangan 

Kandungan protein 

Kandungan lemak 

Daya hasil 

Rata-rata hasil 

Ketahanan terhadap
penyakit 

Keterangan lain 


Pemulia 




Thn. dan nomor SK
pelepasan 
Introduksi dari Thailand oleh 
PT. Nestle Indonesia tahun
1988 dengan nama asal 
Nakhon Sawan I 



Ungu 



Ungu 







Kuning 

Coklat 



Determinate 

40 cm 

35 hari 

80-82 hari 

3 - 4 cabang 

Tahan rebah 



3-4 cabang 

39,4 % 

20,8 % 

1,5 – 2,0 t/ha 



Toleran terhadap penyakit 
karat daun 

Sesuai untuk bahan baku 
susu 

RPP. Rodiah, C.Ismail, Gatot 
Sunyoto, dan Sumarno 



4 Nopember 1998 No. 
880/Kpts/TP.240/11/98 
Segregrat silang alam, diambil 
dari tanaman petani di jember 



C1-I-2/KPR-3 

Ungu 

Hijau 

Ungu 

Oblong, ujung runcing 

Hijau 

Coklat 

Kuning 

Coklat 

Terang coklat kekuningan 

Determinate 

60-70 cm 

35 hari 

80-82 hari 



Tahan rebah 

17 gram 



39 % 

20 % 

1,6 –2,5 t/ha 

2,04 t/ha 

Agak tahan terhadap penyakit 
karat daun 




RPP. Rodiah, Ono sutrisno, 
Gatot Sunyoto, Sumarno dan 
Soegito 


22 juni 1999 
No. 776/Kpts/TP/240/9/99
Introduksi dari Philiphina 
oleh PT. Nestle Indonesia 
tahun 1988 dengan 
Manchuria 

BPTP Krp-2 

Ungu 



Ungu 



Hijau 



Kuning mengkilap 

Putih abu 



Determinate 

60-70 cm 

35 hari 

85 hari 



Tahan rebah 





-

-

1,68-2.50 t/ha 



Toleran terhadap penyakit 
karat daun 




Sumarno, Rodiah, Ismail 
(BPTP Kr.Ploso), Ir. 
Noerahman (PT. Nestle), 
Diperta Tk. I Jawa timur 

4 nopember 1998 
No.861/Kpts/TP.240/11/98
Lembar informasi pertanian (Liptan) IP2TP Mataram No. 07/Liptan/2000 
Diterbitkan oleh: Instalasi Penelitian dan Pengkajian teknologi Pertanian Mataram 
Kotak Pos 1017, Telp. (0370) 671312, Fax. 671620 


Beberapa varietas unggul baru di coba dan diadaptasikan dalam skala luas (kegiatan perbanyakan benih sumber) pada lahan kering di Kabupaten Bima dan Dompu pada musim hujan 1999/2000, diperoleh hasil rata-rata 2,41 t/ha (Argomulyo), 2,19 t/ha (Bromo), 1,68 t/ha (Burangrang), dan 1,75 t/ha (Wilis) sebagai pembanding. Dari segi umur polong masak ternyata ke 3 varietas baru lebih cepat dibanding yang tertera dalam deskripsi yaitu 78 hari (Argomulyo), 80 hari (Bromo), dan 78 hari (Burangrang).

Budidaya Kedelai di daerah Jember - Bondowoso yang dilakukan petani sebagian besar dilakukan dengan sistem Tanpa Olah Tanah ( TOT ), umumnya penanaman kedelai dilakukan menjelang musim kemarau Yaitu setelah tanaman padi.. Ketika penulis menanyakan ke petani mengapa menggunakan sistem TOT dan apakah dengan sistem TOT petani memperoleh untung ? maka beberapa orang petani yang sempat diwawanca mengatakan bahwa penanaman kedelai dengan sistem Tanpa Oleh Tanah menguntungkan petani dengan alasan :

1. Menghemat biaya untuk pengolahan tanah
2. Menghemat biaya penyiangan karena begitu benih di tebar / ditanam biasanya tidak disiangi
3. Sebagian besar petani mengatakan keuntungan dengan menggunakan sistem TOT dapat diperoleh keuntungan 200% dari modal yang dikeluarkan. Dengan sistem TOT biaya yang dikeluarkan relatif lebih sedikit.

Menurut pengamatan penulis ada beberapa metode pembudidayaan kedelai yang dilakukan petani terkait dengan cara tanam kedelai yaitu 
1. Ada petani yang menyebarkan benih kedelai begitu saja, hal ini sangat tampak dengan jarak tanam yang berbeda-beda dan tidak teratur.
2. Sebagian petani menanam benih kedelai dengan menggunakan Tugal sehingga jarak tanam masih lebih teratur

Menurut pengamatan penulis budidaya kedelai dengan sistem TOT terjadi persaingan unsur hara antara tanaman kedelai dengan gulma, hal ini sangat tampak dengan tumbuhnya gulma di antara tanaman kedelai. Untungnya kedelai mempunyai sistem perakaran yang dapat menangkap Nitrogen ( N ) dari udara sehingga tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik di antara gulma. Hal ini juga mempengaruhi populasi hama tanaman kedelai terutama hama ulat penggulung daun (Lamprosema indi ca) keping hijau ( Nezara viridula), keping coklat ( Reptortus linearis). Tingkat kerusakan oleh Nezara viridula mencapai 40 %.
Untuk mengatasi hama pada tanaman kedelai petani menyemprotnya dengan insektisida.

Walaupun kondisi yang demikian petani masih menerapkan sistem penanaman Kedelai dengan menggunakan metode Tanpa Olah Tanah ( TOT ) tersebut sampai pada tulisan ini kami posting karena dengan sistem TOT petani diuntungkan dan tentu saja tidak lepas dari faktor kebiasaan dari petani.

Teknis Budidaya Kedelai dapat dipelajari disini

 

Salam tani
 
Dwi Hartoyo, SP

 

REFERENSI
http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ntbr0109.pdf
http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ppua0119.pdf 

MetaTag

cara cara penanaman, industri pertanian, mesin pertanian, teknologi pertanian, ilmu pertanian, ekonomi program, ilmu ekonomi pertanian, ekonomi pertanian, dan tani, budidaya, artikel budidaya tanaman, budidaya tanaman perkebunan, tanam buah, ilmu pertanian, cara menanam organik, menanam dalam pot, budidaya pertanian